Banyak orang yang tidak terlalu suka memakan buah jambu biji karena banyak mengandung biji. Ketika ditanya alasannya, selalu berkata takut terkena usus buntu apabila memakan bijinya. Walaupun kita sadar bahwa itu sebenarnya hanya sekedar mitos. Dokter pun pasti setuju, bila usus buntu tidak ada hubungannya karena memakan biji.

Terlepas dari mitos atau kepercayaan, tetap saja sebagian orang enggan memakan buah Jambu Biji karena tidak nyaman saat dimakan. Saat ini sedang “booming” jenis varian baru dari jambu biji, namanya Jambu Kristal. Sedemikian tenarnya varian ini sehingga jumlah permintaan di pasar tidak dapat dipenuhi oleh ketersediaan pasokan. Hal ini disebabkan karena belum banyak petani yang membudidayakan varietas ini. Penasaran mengapa varian ini sangat digemari ? Ikuti saja ulasan berikut ini.

Ada 2 macam Jambu Kristal yang dikenal di Indonesia . Jenis pertama diberi nama “Taiwan 1” dan jenis kedua “Taiwan 2”. Keduanya mempunyai persamaan, yaitu bijinya bisa dibilang sangat sedikit kurang dari 10% dari isi dagingnya. Tetapi jenis Taiwan 1 lebih sedikit bijinya daripada jenis yang satunya. Buah dari jenis Taiwan 1 memiliki ukuran yang jauh lebih besar. Bahkan ada yang berbobot 0.9 Kg per buah. Sedangkan jenis Taiwan 2 lukurannya lebih kecil. Kita dapat melihat perbandingan ukuran dari kedua jenis ini pada gambar sebelah.

Bila dimakan, daging buah Taiwan 1 lebih menyerupai daging buah Pir. Sebagian orang mengatakan rasanya seperti ada “kres-kres”-nya. Sedangkan daging buah dari jenis Taiwan 2 memiliki rasa seperti jambu biji lokal, ada rasa “sepet dan manis”-nya. Warna kulitnya pun terlihat berbeda. Taiwan 1 memiliki warna hijau kekuning-kuningan sedangkan Taiwan 2 berwarna hijau terang.

Hari Sabtu, 6 Juli 2013 helloCikarang.com diundang secara khusus oleh Bp. Ceppy seorang pengusaha Jababeka untuk melihat langsung pembudidayaan Jambu Kristal di daerah Bogor tepatnya di Dramaga. Kami berangkat jam 6.00 pagi dari Cikarang. Dibutuhkan tidak lebih dari satu jam perjalanan dari Cikarang ke Bogor, itupun karena hari Sabtu sehingga tidak terlalu macet. Sesampai di Bogor, helloCikarang.com diperkenalkan dengan Bp. Joni, salah satu pembudidaya Jambu Kristal di sana. Menurut Pak Joni, sudah banyak pemain agrobisnis luar kota bahkan luar pulau yang belajar darinya. Untung saja kami tiba di Bogor pagi hari, karena tepat tengah hari Beliau akan kedatangan tamu dari Makasar yang terkait dengan budidaya Jambu Kristal. Menurut Pak Joni, tahun depan akan ada investor dari Taiwan yang akan mengembangkan jenis ini di kota Malang, Jawa Timur.

Mengapa jenis ini sangat menarik bagi investor ? Selain permintaan pasar yang tinggi, perbedaan harga jual di tingkat petani dan pasarpun sangat tinggi. Di pihak petani dijual Rp. 15.000 per kilo. Bila sudah sampai di mall, harganya bisa mencapai Rp 26.000 sampai dengan Rp 45.000 per kilo. Dalam setahun Jambu Kristal dapat dipanen sampai 4 kali. Sekali panen untuk tumbuhan yang berusia sekitar 8 bulan bisa dipanen 3 sampai 5 kilo per pohon. Bila usia tanaman sudah mencapai 2 tahun ke atas, satu pohon bisa menghasilkan 10 sampai 15 kilo perpohon. Bila setahun dapat dipanen sebanyak 4 kali, Anda tinggal menghitung berapa keuntungan yang bisa diperoleh ? Padahal harga bibitnya hanya Rp. 35.000 per pohon. Tiap pohon dapat berproduksi sampai dengan 10 tahun. Setelah itu sebenarnya masih bisa berproduksi, tetapi jumlah buah yang dipanen sudah tidak menguntungkan lagi. Sehingga para petani akan mengganti dengan pohon yang baru bila telah berusia 10 tahun.

Pemeliharaannya pun tidak sulit, cukup diberi pupuk kandang berupa kotoran kambing dan media tanam harus selalu dijaga kelembabannya. Serta pastikan pohon selalu menerima sinar matahari secara penuh atau tidak boleh dilindungi oleh pohon yang lebih besar. Bila buah sudah sebesar bola bakso, segeralah membungkusnya dengan foam/busa yang biasa dipakai untuk membungkus buah di mal. Terakhir lapisi lagi dengan plastik yang telah dilubangi. Semua cara tersebut dilakukan agar buah terhindar dari hama ulat serta kutu putih. Selain itu agar ukuran buah menjadi lebih maksimal atau menghindari buah cepat matang.

Sumber : HelloCikarang.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *